Tanpa BBM, Kapal Nelayan Inovasi Mahasiswa ITS Ramah Lingkungan

Kapal-kapal nelayan yang biasa mangkal di TPI Campurejo, Kecamatan Panceng, Gresik.

KOMPAS.com - Umumnya, nelayan menggunakan kapal bermesin dengan BBM. Tentu, bahan bakar itu tidak ramah lingkungan. Padahal, ada cara lain yang bisa digunakan sebagai pengganti BBM.


Hal inilah yang coba dilakukan oleh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS) Surabaya untuk terus berinovasi.


Dua mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS ini berhasil menggagas sebuah kapal jukung ramah lingkungan.


Kenapa ramah lingkungan? Karena mereka berdua berinovasi dengan memanfaatkan energi ombak laut. Adapun inovasi kapal tenaga ombak itu diberi nama Katopo.


"Nama ini memiliki kepanjangan yaitu kapal dengan sumber energi PLTO-Naga Air dan Sel Photovoltaic," ujar salah satu mahasiswa Ayunda Iga Indraswari seperti dikutip dari laman ITS, Senin (21/12/2020).


Manfaatkan ombak laut

Dijelaskan, inovasi memanfaatkan energi ombak laut sebagai energi penggerak kapal yang sistemnya diintegrasikan pada cadik.


Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (PLTO) ini menggunakan sistem terapung yang ditambat dan terdiri dari beberapa struktur yang saling bersambungan berbentuk silinder terapung (ponton) dengan penyambung fleksibel (batang hidrolik).


Mereka berinovasi karena melihat peningkatan perkembangan hasil tangkapan ikan laut di Banyuwangi. Tentu saja hal ini tak terlepas dari peran para nelayan daerah yang berlayar mencari ikan.


"Khususnya di Kecamatan Muncar itu sendiri sudah tercatat ada 9.846 nelayan aktif," jelas Ayunda.


Dari laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banyuwangi dijelaskan bahwa sebagian besar kapal nelayan di Muncar masih menggunakan mesin motor berbahan bakar BBM.


Namun para nelayan juga menyiasatinya dengan memodifikasi mesin kapal agar dapat menggunakan campuran bahan bakar dengan perbandingan tertentu.


Temua di lapangan bahwa ada perilaku nelayan yang sering membuang sisa-sisa bahan bakar tentu sangat berpotensi menyebabkan pencemaran, sehingga menurunkan kualitas perairan di pelabuhan.


Berangkat dari permasalahan tersebut, Ayunda dan rekannya yakni Muhammad Arif Billah berpikir untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari pembuangan minyak ke laut.


"Yakni dengan mengganti kapal berbahan bakar BBM dengan kapal berenergi ombak laut, karena tidak berdampak buruk bagi lingkungan," terang Ayunda.


Dikombinasi energi surya

Katopo sendiri memanfaatkan energi ombak laut sebagai penggerak kapal memiliki tinggi dan periode gelombang tidak tetap. Sehingga mereka mengkombinasikannya dengan energi surya.


Diawali dengan energi dari ombak diubah menjadi energi listrik dan disimpan di dalam baterai atau aki. Kemudian, sel surya pada bagian atap kapal juga akan menghasilkan energi tambahan pada mesin sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penggerak motor kapal nelayan.


Melalui inovasi yang dinilai ramah lingkungan dan tidak memakan banyak biaya ini, Ayunda berharap Katopo dapat memperbaiki kualitas perairan di Indonesia.


"Katopo juga mampu menambah kualitas hidup nelayan dan menumbuhkan kesejahteraan kehidupan nelayan di Indonesia khususnya Banyuwangi," harapnya.


[Source: Kompas]

Post a Comment

0 Comments